surveyor

Just another WordPress.com site

survey dan pemetaan

 Survey dan Pemetaan

1.    Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu :

a.  Geodetic Surveying

b.  Plan Surveying

2.    Geodetic surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas > 55 km x 55 km) atau (>0,5 derajat x 0,5 derajat)

3.    Plan Surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas < 55 km x 55 km) atau (<0,5 derajat x 0,5 derajat)

4.    Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu :

a. Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV)

b. Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH)

c. Pengukuran Titik-titik Detail

5.    Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu.

6.    Pengukuran kerangka Dasar vertical pada dasarnya ada 3 metode, yaitu :

a. Metode pengukuran kerangka dasar sipat datar optis;

b. Metode pengukuran Trigonometris; dan

c. Metode pengukuran Barometris.

7.    Pengukuran kerangka dasar horizontal adalah untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar.

8.    Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah :

a. Metode Poligon

b. Metode Triangulasi

c. Metode Trilaterasi

d. Metode kuadrilateral

e. Metode Pengikatan ke muka

f. Metode pengikatan ke belakang cara Collins dan cassini

9.    Bagian yang harus ada saat pengukuran yaitu benda ukur, alat ukur, dan pengukur/pengamat.

10.  Persyaratan kesalahan saat pengukuran yaitu:

a. Pengukuran tidak selalu tepat

b. Setiap pengukuran mengandung galat

c. Harga sebenarnya dari suatu pengukuran tidak pernah diketahui

d. Kesalahan yang tepat selalu tidak diketahui

11.  Penyebab kesalahan pengukuran yaitu : alam, alat dan pengukur

12.  Factor- factor yang mempengaruhi hasil pengukuran yaitu : keadaan tanah jalur pengukuran, keadaan/kondisi atmosfer (getaran udara), refraksi atmosfer, kelengkungan bumi, kesalahan letak skala nol rambu, kesalahan panjang rambu (bukan rambu standar), kesalahan pembagian skala (scale graduation) rambu, kesalahan pemasangan nivo rambu, kesalahan garis bidik.

13.  Macam-macam kesalahan yaitu : kesalahan sistematis, kesalahan acak, kesalahan besar.

14.  Kesalahan pada ukuran dibagi dua, yaitu : kesalahan sudut dan kesalahan jarak.

15.  Kerangka dasar vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa  ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu.

16.  Pengukuran tinggi merupakan penentuan  beda tinggi antara dua titik. Pengukuran beda tinggi dapat ditentukan dengan tiga metode, yaitu:

• Metode pengkuran penyipat datar

• Metode trigonometris

• Metode barometris.

17.  Pengukran beda tinggi metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi. Tujuan dari pengukuran penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur.

Pengkuran sipat datar terdiri dari beberapa macam, yaitu:

• Sipat datar memanjang

• Sipat datar resiprokal

• Sipat datar profil

• Sipat datar luas

18.  Pengukuran beda tinggi metode trigonometris prinsipnya yaitu mengukur jarak langsung (jarak miring), tinggi alat, tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal (zenith atau inklinasi) yang kemudian direduksi menjadi informasi beda tinggi menggunakan alat theodolite.

19.  Pengukuran beda tinggi metode barometris prinsipnya adalah mengukur beda tekanan atmosfer suatu ketinggian menggunakan alat barometer yang kemudian direduksi menjadi beda tinggi.

20.  Tingkat ketelitian yang paling tinggi dari ketiga metode tersebut adalah sipat datar kemudian trigonometris dan terakhir adalah barometris. Pada prinsipnya ketiga metode tersebut layak dipakai bergantung pada situasi dan kondisi lapangan.

21.  Pengukuran menggunakan sipat datar optis adalah pengukuran tinggi garis bidik alat sipat datar di lapangan melalui rambu ukur.

22.  Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan serangkaian titik-titik  di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak.

23.  Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan sedemikian rupa sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak kompleks.

24.  Bagian utama  pada Alat sipat datar optis adalah

a. Teropong untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar bayangan rambu.

b. Nivo tabung berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar.

c. Kiap (leveling head/base plate), digunakan untuk menegakan sumbu kesatu (sumbu tegak) teropong.

d. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri).

e. Lensa okuler (untuk memperjelas benang).

f. Lensa objektif/ diafragma (untuk memperjelas benda/ objek).

g. Sekrup penggerak halus (untuk membidik sasaran).

h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek).

i. Statif (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di atas.

25.  Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar optis adalah :

a. alat sipat datar optis.                  e.  patok.

b. rambu ukur 2 buah.                   f.   pita ukur

c. statif.                                            g.  payung.

d. unting-unting.

26.  Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin.

27.  Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi. Tujuan Sistem Proyeksi Peta dibuat dan dipilih untuk menyatakan dan menyajikan secara grafis posisi titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar.

28.  Cara proyeksi peta dapat dilakukan dengan cara proyeksi langsung (direct projection) dan proyeksi tidak langsung (double projection). Secara garis besar sistem proyeksi peta bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.

29.  Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (j ,l ). Sedangkan  bidang proyeksi adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (X,Y).

30.  UTM merupakan sistem proyeksi silinder, konform, secant, transversal.

31.  Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem proyeksi Universal Tranverse Mercator dengan ketentuan faktor skala di meridian sentral = 0,9999 dan lebar zone = 3°.

32.  Sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari arah utara geografis, maka arah utara diambil sebagai suatu salib sumbu.

33.  Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur sudut dan pada ilmu geodesi berjalan berlawanan, ialah pada Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada Ilmu Geodesi dari kiri ke kanan tapi daerah kuadran pada  dua ilmu itu menyatakan daerah yang sama. Oleh karena itu, alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya dari utara dan searah jarum jam.

34.  Untuk menentukan luas pengukuran  dengan menggunakan sistem koordinat dapat menggunakan metode Sarus. Metode Sarus dapat digunakan apabila terdapat beberapa variabel X dan Y. Misalnya X1, X2, X3,…, Xn dan Y1, Y2, Y3,…, Yn. Maka kedua variabel tersebut dikali silang kemudian dibagi 2.

35.  Mengukur jarak adalah mengukur panjang penggal garis antar dua buah titik tertentu.

36.  Jarak horizontal adalah jarak yang apabila diukur maka perbedaan tingginya adalah 0. Sedangkan jarak miring adalah hasil pengukurannya melibatkan kemiringan.

37.  Klasifikasi pengukuran jarak :

a. Pengukuran jarak langsung

b. Pengukuran jarak tidak langsung

38.  Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran jarak secara langsung diantaranya adalah :

a. Mistar;

b. Pita ukur metalik;

c. Pita ukur serat-serat gelas;

d. Pita ukur dari baja;

e. Pita ukur invar;

f. Roda ukur; dan

g. Speedometer.

39.  Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju, azimuth juga sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam.

40.  Back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth.

41.  Macam-macam azimuth yaitu :

a. Azimuth Sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran;

b. Azimuth Magnetis, yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran;

c. Azimuth Peta, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.

42.  3 (tiga) arah utara yang sering digunakan dalam suatu peta.

a. Utara magnetis, yaitu utara yang menunjukkan kutub magnetis.

b. Utara sebenarnya (utara geografis), atau utara arah meridian.

c. Utara grid, yaitu utara yang berupa garis tegak lurus pada garis horizontal di peta.

43.  Perbedaan pengikatan ke muka dan ke belakang dalam menentukan suatu titik koordinat adalah data awal yang tersedia, prosedur pengukuran di lapangan serta keadaan lapangan yang menentukan cara mana yang cocok digunakan.

44.  Pengikatan ke muka dapat dilakukan apabila kondisi lapangan memungkinkan untuk berpindah posisi pengukuran yaitu pada daerah-daerah yang mudah seperti pada dataran rendah yang mempunyai permukaan datar, sehingga keadaan lapangan tersebut dapat memungkinkan dilakukan pengikatan ke muka.

45.  Pengikatan ke belakang, dilakukan pada saat kondisi lapangan tidak memungkinkan menggunakan pengukuran pengikatan ke muka, dikarenakan alat theodolite tidak mudah untuk berpindah-pindah posisi, dan kondisi lapangan yang terdapat rintangan.

46.  Theodolite, adalah alat yang digunakan untuk membaca sudut azimuth, sudut vertikal dan bacaan benang atas, bawah dan tengah dari rambu ukur.

47.  Fungsi Theodolite digunakan untuk mengukur besaran sudut datar yang dibentuk dari titik koordinat yang akan dicari titik-titik lain yang telah diketahui koordinatnya.

48.  Rambu ukur, digunakan sebagai patok yang diletakan di titik-titik yang telah diketahui koordinatnya untuk membantu dalam menentukan besaran sudut yang dibentuk dari beberapa titik yang telah diketahui koordinatnya, sehingga pada keperluan pengukuran ini tidak diperlukan data pada rambu ukur seperti benang tengah, benang atas, dan benang bawah.

49.  Statif, digunakan sebagai penopang dan tempat diletakannya theodolite.

50.  Unting-unting digunakan agar penempatan alat theodolite tepat berada di atas permukaan titik yang akan dicari koordinatnya.

51.  Untuk menghitung titik koordinat dengan menggunakan pengikatan ke belakang cara Collins, data yang diukur di lapangan adalah besarnya sudut α dan sudut β.

52.  Cara pengikatan ke belakang metode Cassini merupakan salah satu model perhitungan yang berfungsi untuk mengetahui suatu titik koordinat, yang dapat dicari dari titik-titik koordinat lain yang sudah diketahui.

53.  Pengikatan ke belakang metode Cassini bertujuan untuk mengukur atau menentukan koordinat titik jika kondisi alam tidak memungkinkan dalam pengukuran biasa atau dengan pengukuran pengikatan ke muka. Sehingga alat theodolite hanya ditempatkan pada satu titik, yaitu tepat diatas titik yang akan dicari koordinatnya, kemudian diarahkan pada patok-patok yang telah diketahui koordinatnya, Yang   membedakan   metode   Cassini  dengan metode Collins adalah asumsi dan pengolahan data perhitungan. Sedangkan pada proses pelaksanaan pengukuran di lapangan kedua metode tersebut sama, yang diukur adalah jarak mendatar yang dibentuk antara patok titik koordinat yang sudah diketahui.

54.  Peralatan yang digunakan pada pengukuran pengikatan ke belakang cara Cassini, antara lain sebagai berikut :Theodolite, Rambu ukur, Statif, Unting-unting, Benang, Formulir ukur dan alat tulis.

55.  Langkah-langkah penggambaran Pengikatan ke belakang metode Cassini :

a. menentukan titik A, B dan C yang telah disesuaikan dengan koordinat masing-masing baik absis maupun ordinatnya ke dalam kertas grafik.

b. lukislah sudut 90°

– α pada arah koordinat A dan sudut 90°

– β pada arah koordinat B.

c. lukis sudut 90°  di titik A sehingga akan berpotongan dengan sudut yang dibentuk oleh sudut  90° – α.

d. hubungkan titik koordinat R dan S tersebut, sehingga kedua titik terdapat dalam satu garis lurus.

e. tarik garis dari titik B terhadap garis RS, sehingga menjadi garis yang membagi garis RS dengan sudut sama besar yaitu saling tegak lurus 90°.

f. Bacalah koordinat titik P tersebut

56.  Kerangka dasar horizontal adalah sejumlah titik yang telah diketahui koordinatnya dalam suatu sistem koordinat tertentu. Tujuan pengukuran ini ialah untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi.

57.  Cara menentukan koordinat titik-titik KDH yang diukur :

a.   Menentukan koordinat satu titik yaitu  suatu pengukuran untuk suatu wilayah yang sempit, cara ini terbagi menjadi dua metode yaitu : pengikatan kemuka dan pengikatan kebelakang.

b.   Menentukan koordinat beberapa titik yang terdiri dari beberapa metode, yaitu : Cara poligon, Cara triangulasi, Cara trilaterasi dan Cara Kwadrilateral.

58.  Poligon adalah serangkaian garis berurutan yang panjang dan arahnya telah ditentukan dari pengukuran di lapangan. Sedangkan metode poligon adalah salah satu cara penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu dengan lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik (poligon).

59.  Syarat pengukuran poligon adalah :

a) Mempunyai koordinat awal dan akhir,

b) Mempunyai azimuth awal dan akhir

60.  Tujuan Pengukuran poligon yaitu untuk menetapkan koordinat titik-titik sudut yang diukur.

61.  Jenis – jenis pengukuran poligon dapat ditinjau dari bentuk fisik visualnya dan dari geometriknya.

62.  Peralatan yang digunakan dalam pengukuran poligon : Pesawat Theodolite, Statif, Unting-Unting, Patok, Rambu Ukur, Payung, Meja lapangan (meja dada),Pita Ukur (meteran). Bahan yang digunakan dalam pengukuran poligon: Formulir Ukur, Peta wilayah study, Cat dan koas, Alat tulis, Benang dan Paku.

63.  Sebelum melakukan pengukuran, sebaiknya prosedur penggunaan alat, dan prosedur pengukuran dipahami terlebih dahulu. Dalam pengolahan data dan penggambaran poligon KDH bias dilakukan secara manual atau digital.

64.  Luas adalah jumlah area yang terproyeksi pada bidang horizontal dan dikelilingi oleh garis-garis batas.

65.  Luas yang diukur pada gambar situasi disebut pengukuran tak langsung.

66.  Luas yang dihitung dengan menggunakan data jarak dan sudut yang langsung diperoleh dari pengukuran dilapangan disebut pengukuran langsung.

67.  Metode Sarrus, yaitu menggunakan koordinat-koordinat titik batas sebagai masukan untuk perhitungan luas.

68.  Metode pengukuran luas, terdiri dari : Metode diagonal dan tegak lurus, Metode pembagian segitiga, Metode trapesium, Metode offset, Metode offset pusat, Metode simpson, Metode jarak meridian ganda, Metode kisi-kisi, Metode lajur, Metode pengukuran luas dengan planimeter.

69.  Planimeter terbagi atas dua macam, yaitu planimeter fixed index model (model tetap), planimeter sliding bar model (model disetel)

70.  Sistem besaran sudut pada pengukuran dan pemetaan dapat terdiri dari:

a.   Sistem besaran sudut seksagesimal

Sistem besaran sudut ini disajikan  dalam besaran  derajat, menit dan sekon.

b.   Sistem besaran sudut sentisimal

Sistem besaran sudut ini  disajikan dalam besaran grid, centigrid dan centi-centigrid.

c.   Sistem besaran sudut radian

Sistem besaran sudut ini disajikan dalam sudut panjang busur. Sudut pusat di dalam lingkaran yang mempunyai busur sama dengan jari-jari lingkaran adalah sebesar satu radian

d.   Sistem waktu (desimal)

71.  Sistem waktu digunakan dalam pengukuran astronomi. Nilai sudut desimal maksimal adalah 360.

72.  Dasar untuk mengukur besaran sudut ialah lingkaran yang dibagi dalam empat bagian, yang dinamakan kuadran.

a.   Cara seksagesimal membagi lingkaran dalam 360 bagian yang dinamakan derajat, sehingga satu kuadran ada 90 derajat. Satu derajat dibagi dalam 60 menit dan satu menit dibagi lagi dalam 60 sekon.

1° = 60’      1’ = 60”       1° = 3600”

b.   Cara sentisimal membagi lingkaran  dalam  400 bagian, sehingga satu kuadran mempunyai 100 bagian yang dinamakan grid. Satu grid dibagi lagi dalam 100 centigrid dan 1 centigrid dibagi lagi dalam 100 centi-centigrid.

1g = 100c

1c = 100cc

1g = 10000cc

c.   Sudut pusat di dalam lingkaran yang mempunyai busur sama dengan jari-jari lingkaran adalah sebesar satu radian.

2 π r  = 2π rad.

d.   Hubungan antara satuan cara seksagesimal dan satuan cara sentisimal dapat dicari dengan dibaginya lingkaran dalam 360 bagian cara seksagesimal dan dalam 400 bagian cara sentisimal, jadi :

3600 = 400g

73.  Untuk keperluan pengukuran dan pemetaan selain pengukuran kerangka dasar vertikal yang menghasilkan tinggi titik-titik ikat dan pengukuran kerangka dasar horizontal yang menghasilkan koordinat titik-titik ikat juga perlu dilakukan pengukuran titik-titik detail untuk menghasilkan titik-titik detail yang tersebar di permukaan bumi yang menggambarkan situasi daerah pengukuran.

74.  Pengukuran titik-titik detail dilakukan sesudah pengukuran kerangka dasar vertikal dan pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan. Pengukuran titik-titik detail mempunyai orde ketelitian lebih rendah dibandingkan orde pengukuran kerangka dasar.

75.  Pengukuran titik-titik detail dengan metode tachymetri pada dasarnya dilakukan dengan menggunakan peralatan dengan teknologi lensa optis dan elektronis digital. Pengukuran titik-titik detail dengan metode Tachymetri ini adalah cara yang paling banyak digunakan dalam praktek, terutama untuk pemetaan daerah yang luas dan untuk detail-detail yang bentuknya tidak beraturan.

76.  Pengukuran tiitk-titik detail metode tachymetri ini relatif cepat dan mudah karena yang diperoleh dari lapangan adalah pembacaan rambu, sudut horizontal (azimuth magnetis), sudut vertikal (zenith atau inklinasi) dan tinggi alat. Hasil yang diperoleh dari pengukuran tachymetri adalah posisi planimetris X, Y, dan ketinggian Z.

77.  Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi yang sepihak adalah sebanding.

78.  Penentuan beda elevasi dengan tachymetri dapat dibandingkan dengan sipat datar memanjang t.i. sesuai bidikan plus, dan pembacaan rambu sesuai bidikan minus.

79.  Menggunakan pengukuran cara tachymetry, selain diperoleh unsur jarak, juga diperoleh beda tinggi.

80.  Pengukuran metode tachymetri menggunakan alat theodolite, baik yang bekerja secara optis maupun elektronis digital yang sering dinamakan dengan Total Station.

81.  Penggambaran hasil pengukuran tachymetri dapat dengan manual ataupun dengan komputerisasi (AutoCAD).

82.  Data yang diambil dari lapangan semakin banyak semakin baik

83.  Garis kontur adalah garis khayal yang mengubungkan titik – titik dengan ketinggian yang sama.  Tujuan pembuatan garis kontur di atas peta adalah untuk memperlihatkan naik – turunnya keadaan permukaan tanah.

84.  Aplikasi dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope ( kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah terhadap jalur proyek ( bangunan ) dan perhitungan galian serta timbunan ( cut and fill ).

85.  Sifat – sifat garis kontur :

a.   Berbentuk kurva tertutup, tidak bercabang dan tidak berpotongan.

b.   Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai, menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan dan tidak tergambar jika melewati bangunan.

c.   Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal, garis kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai dan satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu..

d.   Penyajian interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan, jika datar maka interval garis kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan nilai skala peta , jika berbukit maka interval garis kontur adalah 1/500 dikalikan dengan nilai skala peta dan jika bergunung maka interval garis kontur adalah 1/200 dikalikan dengan nilai skala peta.

e.   Penyajian indeks garis kontur pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis kontur, pada daerah berbukit setiap selisih 4 garis kontur sedangkan pada daerah bergunung setiap selisih 5 garis kontur.

f.    Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung. Dan rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf “V” menandakan suatu lembah/jurang.

86.  Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan dan merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Interpolasi garis kontur menggunakan prinsip segitiga sebangun yaitu :dj = di (Tj – To ) / ( Ti – To )

87.  Galian dan timbunan dapat diperoleh dari peta situasi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur atau diperoleh langsung dari lapangan melalui pengukuran sipat datar profil melintang sepanjang koridor jalur proyek atau bangunan.

88.  Adapun Tujuan lain dari perhitungan galian dan timbunan sebagai berikut :

a.   Meminimalkan penggunaan volume galian dan timbunan pada tanah, sehingga pekerjaan pemindahan tanah dan pekerjaan stabilitas tanah dasar dapat dikurangi, waktu penyelesaian proyek dapat dipercepat, dan biaya pembangunan dapat se-efisien mungkin.

b.   Untuk menentukan peralatan (alat-alat berat) yang digunakan pada pekerjaan galian maupun timbunan, dengan mempertimbangkan kemampuan daya operasional alat tersebut.

89.  Sebelum memulai perhitungan galian dan timbunan, pekerjaan diawali dengan pematokan (stake out). Pematokan bertujuan untuk menandai wilayah mana saja yang akan terkena galian dan timbunan, atau bagian-bagian di lapangan yang menjadi bakalproyek. Setelah pekerjaan stake out selesai, pekerjaan galian dan timbunan dapat dimulai dengan mengolah data yang diperoleh dari lapangan untuk selanjutnya diolah.

Ada tiga sistem utama yang dipakai: metode tampang melintang, metode luas satuan atau lubang galian sumbang dan metode luas garis tinggi.

90.  Beberapa kesalahan khas yang dibuat dalam hitungan pekerjaan tanah adalah:

a. Mengacaukan tanda-tanda aljabar dalam hitungan luas ujung memakai metode koordinat.

b. Memakai persamaan untuk hitungan volume stasiun angka bulat padahal yang ada adalah stasiun angka pecahan.

c. Memakai volume luas ujung untuk bentuk pyramidal atau bentuk paju (wedgeshaped). Mencampur adukkan kuantitas galian dan timbunan

91.  Peta adalah sarana informasi (spasial) mengenai lingkungan. Pemetaan adalah suatu proses penyajian informasi muka bumi yang fakta (dunia nyata), baik bentuk permukaan buminya maupun sumbu alamnya, berdasarkan skala peta, system proyeksi peta, serta symbol-symbol dari unsur muka bumi yang disajikan.

92.  Pemetaan digital adalah suatu proses pekerjaan pembuatan peta dalam format digital yang dapat disimpan dan dicetak sesuai keinginan pembuatnya baik dalam jumlah atau skala peta yang dihasilkan. Format digital terdiri dari 2 macam, yaitu:

a. Raster

b. Vektor

93.  Di bawah ini terdapat beberapa keunggulan dan kekurangan pemetaan digital dengan konvensional, yaitu:

94.  Pemetaan digital terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, tenaga kerja, dan perangkat intelegensia. Terdapat beberapa tahapan dalam pemetaan digital, yaitu:

a. Membangun basis geografi,

- Resolusi peta dan akurasi yang tersaji pada basis lahan geografi

- Tampilan untuk topografi kajian.

b. Informasi sistem geologi terdiri dari batas batuan, nama batuan, sesar, kekar, dan morfologi,

c. seluruh data yang dibutuhkan dimasukkan kedalam bentuk digital.

95.  SIG atau GIS merupakan suatu sistem berbasis komputer yang mampu mengaitkan data base grafis (dalam hal ini adalah peta) dengan data base atributnya yang sesuai.

Sistem Informasi Geogafis merupakan suatu kemajuan baru dari kelanjutan pengguna Komputer grafik Auto CAD (Computer Aided Design). Sistem Informasi Geogafis merupakan kombinasi antara CAD dengan data base yang dikaitkan dengan suatu pengenal unik yang sering dinamakan identifier (ID) tertentu.

96.  Keuntungan menggunakan SIG

a. Penanganan data geospatial menjadi lebih baik dalam format baku

b. Revisi dan pemutakhiran data menjadi lebih mudah

c. Data geospatial dan informasi lebih mudah dicari, dianalisis dan direpresentasikan

d. Menjadi produk bernilai tambah

e. Data geospatial dapat dipertukarkan

f. Produktivitas staf meningkat dan lebih  efisien

g. Penghematan waktu dan biaya

h. Keputusan yang akan diambil menjadi lebih baik

97.  Kelebihan dan kekurangan pekerjaan  GIS dengan manual/pemetaan Digital

98.  Sistem komputer untuk SIG terdiri dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan prosedur untuk penyusunan pemasukkan data, pengolahan, analisis, pemodelan (modelling), dan penayangan data geospatial.

Tulis komentar Anda jika ada kalimat rangkuman yang kurang jelas, Terima kasih…

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.